Profle Idrus Dama

Nama saya Idrus Dama. Saya putra kelahiran Tilamuta, 9 Januari 1990. Saya anak kedua dari delapan bersaudara, tiga perempuan dan  lima orang laki-laki. Sekarang saya tinggal di jalan pelabuhan di desa Pentadu barat, Boalemo.

Soal pendidikan, Saya pernah belajar di Madrasah Ibtidaiyah Buba’a pada tahun 1996. Sekolah yang berada di  daerah tertinggal, Paguyaman Pantai. Saya belajar di Madrasah ini selama 4 tahun. Tahun kelima dan seterusnya saya habiskan di sekolah lain. Karena saat itu, orang tua terpaksa memindahkan saya ke sekolah yang ada di perkotaan. Alasannya sih biar lebih maju.

Karena memang, kondisi Madrasah Ibtidaiyah tempat saya menimba ilmu ini sangat menyedihkan. Madrasah ini terkurung jauh di belahan pesisir laut, ditutupi oleh gunung-gunung, tak ada jalan raya selain setapak jalan kebun, tak ada listrik, tak ada signal, apalagi jaringan internet.

Kondisi bangunan madrasah ini sungguh mengerikan. Dindingnya dari beton, tapi sudah lapuk dan berlubang-lubang. Seperti bangunan kandang, antara satu kelas dan kelas lain saling mengintip lewat lubang kelas. Pernah dibangun Madrasah darurat yang struktur bangunannya dari papan. Tapi sayang, tak berumur lama, Madrasah itu tumbang oleh badai yang mengepul datang dari arah laut. maklumlah, daerah pesisir sering langganan badai dari laut. Jangankan Madrasah, kadang juga rumah ambruk.

Selama belajar di Madrasah Ibtidaiyah ini, hidup saya sepertinya orang buta, tidak bisa menarawang cahaya. Seakan masa depan tidak pernah tuhan tuliskan di dalam takdir hidup saya. Semua terasa seperti mimpi buruk yang tak pernah diketahui kapan dia berakhir. Hal lebih menyedihkan lagi, tahun 1998, guru di sekolah ini hanya dua orang. Satu ibu guru Asli daerah itu, satunya lagi dari kampung sebelah, yang sering datang melalui jalur laut.

Dulu level kelas di mata guru saya tidak ada. Siapa yang paling cerdas, itu yang akan direkomendasikan ujian akhir sekolah. Siswa yang cerdas langsung dinaikkan tanpa menunggu catur wulan. Namun, meski  naik loncat-loncat kelas, konskuensi setiap siswa yang naik percepatan, umurnya pun harus ditambah-tambahin, ya! biar pas dengan jenjang kelasnya.

Celakanya, sahabat saya lahir sebelum kedua orang tuanya menikah. Tanggal dan tahun lahirnya tertera bahwa dia lahir sebelum tahun orang tuanya menikah. Kesannya, Ia seperti anak yang lagir di luar nikah. Jadi lucu sih…!! hehe…! Tapi, apa boleh buat, dalam izasahnya sudah tertulis demikian.

Pada tahun 2001, saya pindah ke Sekolah Dasar Pentadu Barat. Sekolah yang ada di  pesisir pelabuhan Tilamuta.  Di sini, saya merasa ada atmosfir yang berbeda. Saya bisa belajar di gedung yang lebih bagus, ruang kelas yang nyaman dan permainan sekolah yang lebih beragam. Dan tentu, teman yang lebih banyak.

Selama di sekolah kedua ini, Alhamdulillah saya bisa menorehkan prestasi. Saya menjadi siswa yang terbaik. Padahal, dari segi latar belakang kehidupan, saya hanyalah anak yang dibesarkan dari tempat kumuh, gizi penunjang IQ saja tidak cukup. Tapi, Allah memberikan satu anugrah yang luar biasa. Saya bisa bersaing dengan anak perkotaan.

Hal yang paling berkesan saat studi di SDN Pentadu Barat ini adalah hidup mandiri. Semenjak saya naik ke kelas lima, orang tua saya pergi merantau ke sulawesi tengah, Ampibabo. Terpaksa orang tua harus menitipkan saya di rumah tetangga. Dengan satu harapan, saya tetap melanjutkan pendidikan.

Saya berharap, kiriman bulanan dari Sulteng bisa memenuhi apa yang menjadi kebutuhan saya. Nyatanya, tidak cukup, uang hanya diperuntukkan beli beras. Sementara uang jajan, saya tak punya. Pengen sekali berbelanja seperti anak-anak lainnya, ketika tiba waktu istrihat bisa makan di kantin, layaknya anak sekolah pada umumnya. Atau paling tidak setiap pergi ke sekolah ditemani orang tua dan tak lupa diciumi di pipi kiri dan kanan.

Tak mau berkeluh kesah, saya akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan. Yang pasti sebuah pekerjaan yang sesuai postur tubuh saya, kecil dan lemah. Waktu itu saya melamar bekerja di sebuah warung makan milik orang jawa. Saya melihat, mas penjual makanan kewalahan melayani pelanggan, dan piring bertumpuk banyak berserakan. Saya datang menghampiri dan menawarkan diri untuk membantu. Walhasil, pemilik warung untuk mengajak saya bekerja. Upahnya ketika itu masih 7 ribu rupiah, tahun 2006. Bagi saya upah itu sudah lebih dari cukup.  Pekerjaan ini saya geluti hingga saya tamat Sekolah Dssar.

Episode perjuangan untuk chapter pertama selesai. Setelah lulus, saya dijemput oleh kedua orang tua. Diberilah saya impian, bahwa sekolah di Sulawesi Tengah adalah hal yang menyenangkan. Sekolahnya besar, siswanya banyak, guru-gurunya cerdas dan fasilitasnya bagus. Saya pun terpesona dengan rayuan itu. Lantas saya ikut ke Sulawesi tengah.

Suatu ketika, orang tua saya bangkrut. Aset ushaa terpaksa harus dijual. Dengan konsekuensi, kedua orang tua saya harus pulang ke Gorontalo. Demi kelanjutan studi, saya kembali dititipkan kepada saudara laki-laki ayah, yang kebetulan masih bertahan di negeri orang ini.

Sayangnya, kondisi ini tidak bisa bertahan lama. Ibunda terlampau rindu dengan saya. Menurut pengakuan ayah, bahwa ibu sering menangis karena rindu berpisah. Ditambah lagi, sering dihantui oleh mimpi buruk perihal diri saya. Karena khawatir yang telah memuncak, ayah memutuskan untuk menjemput saya kembali ke Gorontalo. Tak ada penolakan, saya langsung iyakan. Saya juga tak tahan setiap pagi harus jualan ikan sebelum berangkat ke sekolah. Cepeh…!! Saya melilih pulang ke Gorontalo.

Setibanya di Gorontalo, Saya mendaftar ke SMP Negeri Tilamuta. Saat di sekolah ini, saya harus memulai dari awal. Kawan baru dan kondisi pendidikan yang baru. Dan sebagai siswa baru, tentu harus korban per-Bully-an melulu oleh anak-anak nakal. Mulai dari dihajar hingga ditampar oleh gadis yang super killer. Tapi, lambat laun semua berubah, suasana mulai membaik. Mereka mulai simpati dan pada akhirnya bisa ramah terhadap saya.

Tak berlangsung lama, Keluarga kembali jatuh terpuruk. Kondisi ekonomi keluarga menyedihkan. Untuk makan saja cukup sulit. Sering kami tidur di malam hari dengan perut yang kosong. Kondisi ini menyeretku untuk menjadi pelaut. Ikut bersama Ayah, mencari sesuap nasi untuk keluarga. Tak ada jalan lain. Sebagai anak laki-laki yang tertua, saya harus bertanggungjawab dengan kelangsungan keluarga. Saya hanya perlu yakin, bahwa kesuksesan hidup tidak mesti harus menempuh jalur pendidikan.

Selama setahun saya menjadi nelayan, ekonomi keluarga akhirnya membaik. Kebahagiaan pun mulai terpancar dalam keluarga. Usaha sudah jalan, dan kebutuhan sudah mulai terpenuhi. Semua menjadi normal kembali.

Suatu ketika, sepulang dari melaut, saya ketahuan belajar di dalam kamar. Secara tidak sengaja, Ayah mendapati saya sedang asyik membaca buku-buku pelajaran. Ayah yang melihat hasrat saya untuk belajar ini, kemudian terketuk hatinya untuk memberi saya kesempatan sekolah lagi.

“Masih muda nunu, nanti mendaftar di skolah lain. Biar tidak malu dengan teman-teman di SMP” jelas Ayah.

Tak lama, mata Ayah berkabut, titik bening menggantung di pelupuk matanya, terurai hangat. Seperti ada penyesalan di benaknya. Saya hanya tertunduk malu dan pelan-pelan bergerak menyimpan buku-buku koleksi saya. Tiba-tiba, pelukan Ayah begitu erat menggenggam tubuh. Dengan suara  serak tak jelas dia berucap;

“Nak, besok kamu ke pasar bersama ibu. Beli seragam yang bisa dipakai untuk sekolah.” Kata ayah dengan suara pelan bernada haru.

Betapa bahagianya saya mendengar pernyataan itu. Andai saya punya sayap, mungin saya sudah melayang-layang di angkasa. Saat bersamaan, saya mendapatkan tawaran besiswa retrival, beasiswa khusus anak-anak putus sekolah. Segala biaya akan ditanggung ; pakaian, sepatu, buku-buku hingga uang jajan, dan ini berlaku sepanjang masa studi.Beasiswa ini yang membuat saya mendaftarkan diri di madrasah Tsanawiyah Negeri Tilamuta.

Semasa di Madrasah Tsanawiyah ini, saya mencoba membuat jejak prestasi sebaik mungkin. Alhasil, saya menjadi ketua OSIS 2006, sering mewakili sekolah di ajang pentas seni dan Olahraga tingkat Provinsi, lomba olimpiade matematika, bahkan kegiatan kepramukaan.

Prestasi itu kemudian berlanjut hingga Madrasah Aliyah Negeri Tilamuta. Saya kembali terpilih menjadi ketua OSIS. Dua tahun saya dibebaskan dari biaya sekolah karena amanah itu. Meskipun di tahun ketiga, sebelum lulus, saya harus menjadi kuli bangunan dengan upah 40ribu per hari. Semua ini saya lakukan untuk menyambung nasib kuliah di universitas impian saya.

Pemikiran saya ketika sekolah juga sudah mulai terasah. Karena di sekolah sudah banyak organisasi kampus yang masuk. Mereka melakukan perekrutan jauh sebelum saya mengenal dunia kampus. Organisasi seperti HMI dan lembaga Dakwah kampus rutin memberikan kajian. Bahkan saya dikader menjadi anggota ikatan pemuda Muhamadiyah Kabupaten Boalemo 2008. Dan di tahun yang sama, saya  terpilih menjadi duta Boalemo di ajang Raimuna Nasional 2008, Cibubur Jakarta.

Petualangan chapter II selesai. jejak berikutnya adalah jejak perjuangan di Kampus Merah maron, Universitas Negeri Gorontalo. Nasib ternyata masih berpihak. Saat mendaftar di kampus ini, saya diterima sebagai mahasiswa berprestasi, dengan hadia kuliah gratis selama studi empat tahun. Ya! Saya lolos menjadi mahasiswa penerima Full schoolarship Putra Bidik Misi Anggkatan 2010.

Ternyata takdir Allah jauh lebih indah dari perkiraan kita manusia. Ada hal yang menurut manusia baik, tapi mungkin itu menurut Allah tidak baik untuk kita. Sehingga, kita harus tetap berprasangka baik kepadaNYA. Maha kuasa Allah dengan segala tahta dan kerajaanya. Saya begitu bersyukur dengan rejeki ini.

Terakhir pada tahun 2013, saya dipilih menjadi Ketua Forum Komunikasi Bidik Misi regional Sulawesi A. Hingga saya diberi kesempatan oleh Allah untuk jalan-jalan ke Padang, Sumatra Barat Berdiri di tanah bukit Tinggi, mengunjungi Museum Bung Hatta, menatap tingginya jam Gadang. Semua gratis, mupung perjalanan dinas kampus, ceritanya ikut dalam agenda Kongres Mahasiswa Bidik Misi.

Kini, di tahun 2014 ini, saya akan melakukan perjalanan mengelilingi Nusantara dengan Kapal Republik Indonesia ( KRI ) untuk kegiatan kepemudaan, Sail Raja Ampat yang ada di Papua Barat. Saya dan teman-teman peserta lainnya akan memulai perjalanan dari Jakarta-Ambon-Wakatobi dan berakhir di Raja Ampat.

Kerjaan terakhir di 2014 ini, menyelesaikan studi. Saya mengangkat penelitian tentang kajian sastra murni, dengan judul, ” Women’s Issues in Mona Lisa Smile”. Alhamdulillah pembimbung skripsi saya baik semua. Cantik dan cerdas, Novi R Usu dan Ibunda Moon Otoluwa. Thanks you so much for driving me to finish my project proposal.

Sahabat Muda Indonesia!

Sekian tentang saya. Semoga catatan sederhana ini bisa memperkuat semangat kita dalam belajar. Wallahu A’lam Bissawab..!!

Catatan Pengalaman : 

* Ketua OSIS MTs N Tilamuta 2006
* Sekretaris OSIS MAN Tilamuta 2007-2008
* Ketua OSIS MAN Tilamuta 2008-2009
* Juara 1 Lomba Pidato bahasa Inggris  2010 Kab. Boalemo ( Porseni MA)
* Juara 4 Pidato Bahasa Inggris Tingkat prov. Gorontalo ( MA)
*  Peserta Englishville ULEC Makassar 2008
* Anggota Aliansi Jurnalis Independen Boalemo (AJIB) 2008
* Anggota Ikatan Pemuda Muhammadiyah 2008
* Pendiri  Boalemo Moslem Center ( Team Sebelas )
* LK1 HMI angkatan ke IX FIS 2012
* Wartawan Mediagorontalo.com 2013 ( Sekarang : http://www.infogorontalo.com)
* Wartawan kampus UNG http://www.jambura-online.com
* English Teacher at Genius Course 2013
* Home Creative Design ( Percetakan Mahasiswa )
* Ketua Forum Lingkar Pena Cabang UNG 2014
* Ketua Kebijakan Publik KAMMI Komsat UNG 2014
* Peserta Duta bahasa 2012
* Peserta Duta Bahasa 2013
* Duta Bahari 2014 ( KPN Sail Raja Ampat)
* Juara II Creative Design Kategori Poster oleh MITI Mahasiswa
* Nominasi Mahasiswa Multi Talenta versi LDK UNG
* Juara II Lomba Pidato Kandungan Alqur’an MTQ UNG
* Ketua Kemadiksi UNG 2013
* Ketua Forum Komunikasi Bidik Misi Wilayah Sulutgo 2013-2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s